Rabu, 23 April 2014



Nama              : Zainul Mustofa
Jurusan          : Ilmu Administrasi Negara

Kepemimpinan situasional dengan hati nurani

Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi disbanding makhluk Tuhan lainnya. Manusia di anugerahi kemampuan untuk berpikir, kemampuan untuk memilah & memilih mana yang baik & mana yang buruk.karena pada umumnya hakikat kepemimpinan ditemukan di dalam kehidupan di temukan di dalam kehidupan kelompok atau masyarakat. Dengan kelebihan itulah manusia seharusnya mampu mengelola lingkungan dengan baik. Tidak hanya lingkungan yang perlu dikelola dengan baik, kehidupan social manusiapun perlu dikelola dengan baik. Untuk itulah dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya yang berjiwa pemimpin, paling tidak untuk memimpin dirinya sendiri. Dengan berjiwa pemimpin manusia akan dapat mengelola diri, kelompok & lingkungan dengan baik. Khususnya dalam penanggulangan masalah yang relatif pelik & sulit. Disinilah dituntut kearifan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan agar masalah dapat terselesaikan dengan baik.Tidak banyak orang yang lahir sebagai pemimpin. Pemimpin lebih banyak ada dan handal karena dilatihkan. Artinya untuk menjadi pemimpin yang baik haruslah mengalami trial and error dalam menerapkan gaya kepemimpinan.  
Pemimpin yang baik memiliki dan mampu menerapkan secara tepat (waktu, tempat, dan situasi) sifat utama seorang pemimpin. Ada situasi yang menuntut pemimpin untuk bersabar dan demokratis, tapi ada kalanya harus tegas dan segera mengeluarkan jurus pamungkas untuk segera menyelesaikan persoalan. Sifat tadi sangat dipengaruhi oleh keaktifan daya atau energi kepemimpinan dalam diri seseorang. Daya atau energi ini yang mendorong berkembangnya sifat seseorang, yang diantaranya yaitu; kemanusiaan, di dalam setiap bentuk kepemimpinan, unsur atas hakikat kemanusiaan harus diutamakan. Kebersamaan, kepemimpinan selayaknya berpedoman pada rasa kebersamaan antar sesama anggota organisasi untuk meningkatkan kinerja dan mampu mencapai sasaran yang dikehendaki. Efisiensi, kepemimpinan seharusnya memiliki efisiensi teknis maupun sosial.
Sebagai mahasiswa untuk mencapai tujuan dalam pengambilan keputusan yang efektif ada delapan langkah untuk proses pengambilan keputusan, yaitu:
Pertama, mengenali masalah yang terjadi secara cermat dengan segala keterkaitannya. Kedua, mencari relevansindari permasalahan yang terjadi dengan beberapa kriteria keputusan yang akan diambil. Ketiga, evalusi Efektifitas keputusan, yaitu keputusan yang telah diimplementasikan harus dimonitor, apakah setiap langkah penerapannya sudah benar, sudah tepat, atau terjadi penyimpangan di dalam penerapannya.

Sumber: Drs. Haryadi, MM (kepemimpina Dengan hati nurani, 2012)

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda